About the Book
Anies Rasyid Baswedan menjadi salah satu orang Indonesia yang paling banyak disorot dan di-bully di media sosial. Itu bisa dimengerti karena Anies merupakan salah satu tokoh Indonesia yang paling menonjol dalam beberapa tahun ini. Anies bahkan berpotensi menjadi Presiden Republik Indonesia ke-8.
Anies memiliki kemampuan bertutur kata yang sangat baik. Elokuensi-nya menonjol. Anies juga terbukti mampu menjadi Gubernur DKI Jakarta yang sarat dengan prestasi. Justru karena itu Anies mendapat serangan hebat dari orang-orang yang tidak menyukainya. Dia menyadari hal itu karena seorang pejabat publik harus siap dilacak rekam jejaknya, dikritisi bahkan difitnah sekalipun. Waktu yang akan menjawab.
Sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022, kebijakan-kebijakan Anies selalu mencerminkan pada keadilan, kesetaraan dan perlindungan yang lemah dan miskin, membesarkan yang kecil tanpa memperkecil yang besar. Meskipun sering disudutkan dengan tuduhan intoleransi, pengusung radikalisme dan menggunakan politik identitas namun tidak ada satupun jejak kebijakannya yang dapat membuktikan hal itu. Prestasinya tidak terbantahkan.
Tak pelak lagi, masyarakat Indonesia merindukan sosok Anies memimpin Indonesia. Harapan itu sudah terbuka dengan dirinya menjadi bakal calon Presiden yang diusung Partai Nasdem, Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera pada Pemilihan Presiden tahun 2024 mendatang.
Harapan kami selaku penerbit, semoga buku ini dapat menghadirkan kesadaran obyektif, berdasarkan fakta rekam jejak, bagi pembaca di tengah era post-truth saat ini. Di mana dunia maya dipenuhi dengan berbagai berita dusta atau hoax yang bertujuan menjatuhkan orang lain. Anies terlalu sering mendapat serangan bully di dunia maya meskipun pada akhirnya berbagai tuduhan fitnah tersebut terbantahkan.
Jejak politik Anies justru membuktikan dia melindungi semua pemeluk agama, memperjuangkan kesetaraan, keadilan dan kesejahteraan baik dalam tindakan maupun kebijakan yang ditempuh selaku pejabat politik. Pihak-pihak yang menuduh Anies seorang radikalis, pelaku politik identitas pada akhirnya hanya memperlihatkan kepicikan mereka.
Selamat membaca.
